Ini Penyebab Utama Mengapa Pasar Modal Syariah Sulit Berkembang


Untuk lebih memahami seperti apa Pasar Modal Syariah, Anda bisa baca tulisan; Mengenal Perkembangan Pasar Modal Syariah di Indonesia . Lalu apa yang menjadi penyebab susah berkembangnya pasar modal syariah di Indonesia?

Fadilah Karikasari, Direktur Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa, pasar modal syariah sulit berkembang karena masalah literasi. Pemahaman masyarakat soal pasar modal apalagi pasar modal syariah, dianggap masih sangat minim.

Pemahaman masyarakat Indonesia terhadapap pasar modal syariah masih sangat minim sehingga mereka terkesan tidak kenal dan tidak tahu apa itu pasar modal syariah. Akhirnya, masyarakat jadi tidak tertarik dengan pasar modal syariah.

Meskipun upaya sosialisasi mulai dari produk hingga aturannya terus digalahkkan, ini belum sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang ada saat ini, Indonesia terlalu luas, penduduknya sangat banyak, butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk sosialisasi pasar modal syariah kepada masyarakat luas.

Dikutip dari Republika.Co.id, Untuk mengatasi hal itu, Otoritas Jasa Keuangan yang bergerak di pasar modal syariah sudah memiliki program yang bernama Sharia Online Trading System (SOTS), sehingga sangat mempermudah akses masyarakat terpencil. Hanya saja, pertumbuhan SOST ini terbilang lambat karena enam tahun sejak peluncurannya, baru ada 12 SOTS.

Meski demikian, selama beberapa tahun terakhir, jumlah investor di pasar modal syariah melonjak signifikan. Berdasarkan catatan BEI, pertumbuhan investor di pasar modal syariah pada 2016 melonjak 100 persen. Di akhir 2016, jumlahnya mencapai 10 ribu investor.

Sementara, kapitalisasi pasar saham syariah Indonesia atau Sharia Stock Index (ISSI) hingga 30 Desember 2016, yang memuat 331 saham, mencapai Rp 3.170,1 triliun. Angka ini mencapai 55,1 persen dari total kapitalisasi saham-saham terdaftar di BEI. Sedangkan, saham-saham yang masuk Jakarta Islamic Index (JII) memiliki kapitalisasi Rp 2.035,2 triliun atau 35,4 persen dari total kapitalisasi.